Uncategorized

Tarif pesawat versus target puluhan juta wisman

Jakarta (ANTARA News)  – Gejolak harga tiket pesawat dalam beberapa waktu terakhir sempat membuat industri pariwisata di Tanah Air ketar ketir.

Bagaimana tidak, sektor pariwisata jelas sangat tergantung pada mobilitas udara alias pesawat terbang.

Bahkan tercatat mayoritas mobilisasi wisatawan hampir 80 persen di antaranya melalui jalur transportasi udara.

Kenaikan harga tiket pesawat kemudian dikhawatirkan akan mengganggu target mobilisasi termasuk menjaring lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air dan pergerakan mereka di wilayah Indonesia selanjutnya.

Namun keputusan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia atau Indonesia National Air Carrier Association (INACA) yang pada akhirnya menurunkan tarif tiket penerbangan membuat dunia pariwisata bernapas lega.

Meskipun persoalan ini sudah sempat membuat masyarakat resah.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Guntur Sakti menyambut baik akhir polemik harga tiket pesawat.

Menurut dia, penurunan harga tiket pesawat membawa angin segar bagi dunia pariwisata Indonesia.

Terlebih tahun ini, Indonesia ditargetkan untuk bisa menjaring 20 juta wisman sampai tutup tahun.

Selama ini kata dia, pergerakan wisatawan di Indonesia memang tidak bisa dipungkiri tergantung sangat kuat kepada transportasi jalur udara.

Oleh karena itu, pihaknya semakin optimistis penurunan harga tiket akan mendukung pencapaian target tinggi tersebut.

Selain juga untuk kepentingan bagi pemulihan pariwisata daerah-daerah pascabencana yang juga memerlukan mobilitas tinggi jalur udara.

Industri Prospektif

Penurunan harga tiket pesawat juga dianggap angin segar yang semakin membuat industri pariwisata Tanah Air prospektif.

Koordinator ASITA Wilayah Jawa Edwin Ismedi Himna mengatakan para pelaku industri pariwisata sempat bereaksi keras terhadap kenaikan harga tiket pesawat.

Awalnya mereka amat keberatan dengan kenaikan harga tiket termasuk tarif bagasi dalam penerbangan domestik yang jelas akan mengganggu kinerja dan mobilitas turis di lingkup domestik.

Selain itu, industri pariwisata juga terancam lesu dengan fenomena kenaikan harga tiket pesawat tersebut.

Tapi kemudian keputusan INACA merupakan kabar baik yang membawa angin segar bagi para pelaku industri pariwisata.

Menurut Edwin, para pelaku biro perjalanan wisata kembali bersemangat mematok target tinggi tahun ini.

Ia bahkan meyakini penurunan harga tiket pesawat akan mendukung pergerakan pariwisata di Indonesia hingga semakin dinamis dan menjanjikan.

Pihaknya siap mengemas paket-paket yang menarik untuk memobilisasi wisatawan ke berbagai wilayah dan destinasi di Tanah Air.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bersyukur terhadap pulihnya optimisme lantaran penurunan harga tiket pesawat yang sempat menimbulkan polemik.

Arief mengatakan, penurunan tersebut terjadi karena mendengarkan masukan dari masyarakat.

Penurunan biaya tiket pesawat itu, menurut Arief Yahya, sangat positif karena biaya transportasi itu sangat menentukan orang akan datang atau tidak ke destinasi wisata.

Ia pun semakin optimistis target 20 juta wisman akan lebih mudah untuk dikejar dan dicapai.

Terkait Erat

Pariwisata dan penerbangan merupakan dua sektor yang terkait erat satu sama lain.

Kebersatuannya sulit untuk dipisahkan lantaran simbiosis mutualisme terjalin kuat sehingga satu sama lain sudah hampir pasti saling mempengaruhi.

Membangun keduanya juga ibarat mendahulukan telur atau ayam.

Sebab pariwisata di suatu daerah misalnya akan maju jika ditunjang dengan transportasi penerbangan yang memadai.

Oleh karena itu, jalur transportasi udara yang dibuka ruangnya makin lebar merupakan syarat utama bagi berkembangnya pariwisata yang lebih maju.

Pantas jika kemudian Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mendorong sinergi berbagai pemangku kepentingan terkait untuk menyediakan lebih banyak akses jalur udara bagi destinasi-destinasi potensial.

Maka penurunan harga tiket pesawat jelas merupakan angin segar yang menjadi kabar baik bagi pariwisata Indonesia.

Terlebih bisnis “Low Cost Carrier” merupakan bisnis penerbangan dengan dinamika pertumbuhan paling cepat dan prospektif.

Fenomena “backpaker” bagi generasi milenial mendorong bisnis penerbangan berbiaya murah semakin laju.

Jadi sudah saatnya untuk menyadari bahwa kedua sektor baik pariwisata maupun penerbangan memiliki keterkaitan yang tak mungkin terpisahkan.
Oleh karena itu, pengembangannya pun harus saling memperhatikan satu sama lain.
 

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019