Uncategorized

Rumah makan “instagramable” lagi “in” di Lampung

Kalangan muda di Lampung sedang menggemari suatu tempat yang “instagramable” karena banyak momen menarik yang bisa diabadikan dan dibagikan melalui akun instagramnya. Kegemaran kawula muda itu kemudian dijadikan sebagai peluang ekonomi bagi pelaku usaha untuk mengenalkan dan mengembangkan berbagai tempat usahanya, termasuk rumah makan dan kafe setempat.

Di Bandarlampung sudah terdapat banyak rumah makan yang didisain sedemikian rupa agar menarik perhatian para pengunjung, khususnya para milenial yang sering mencari tempat makan komplit dengan “spot” atau titik foto apik.

Rumah makan yang “instagramable” atau layak dibagikan melalui instagram akan meningkatkan jumlah pengunjung karena semakin terkenal. Karena itu, pemilik rumah makan dan usaha kuliner berusaha menampilkan hal-hal yang unik, kreatif, mewah atau kekinian, agar layak menjadi “feed” atau bahan yang dibagikan melalui intagram.

Umumnya, kawula muda paling suka menggunakan aplikasi instagram untuk membagikan momen-momen menarik untuk dibagikan dalam bentuk foto atau video.

Salah satu rumah makan yang kerap dijadikan sebagai “instagramable” di kota Bandarlampung adalah Encim Gendut karena bernuansa klasik. Tempat makan yang dibuka pertama kali pada April 2016 ini memang mengusung tema klasik.

Banyak hal di rumah makan itu mulai dari makanan, musik yang diputar, hingga dekorasi sangat kental dengan nuansa tradisional/tempo dulu, dan layak “instagramable” karena ditata dengan apik.

Tidak kalah dengan tempat nongkrong bergaya modern, RM Encim Gendut pun dapat dijadikan spot menarik bagi para milenial untuk bersintagram.

Saat tiba di tempat makan itu, para pengunjung sudah disuguhkan dengan ikon khas Encim Gendut, yaitu gambar ibu berbadan gemuk, serta dekorasi bangunan depan yang terlihat “jadul” atau zaman dulu, meski tidak terlalu kentara. Namun, begitu membuka pintu dan masuk ke dalam tempat makan ini, pengunjung akan langsung disuguhkan dengan pemandangan tempo dulu yang sangat kentara.

Di sebelah kanan, ada kursi panjang dan beberapa meja, di atas kursi tersebut terdapat bantal-bantal dalam balutan kain batik yang telah disusun rapi. Di dinding, di atasnya ditempel piring-piring seng dalam berbagai bentuk dengan warna dan gambar yang sangat cerah dan indah.

Sedangkan di sebelah kiri, terdapat dua kursi panjang dan satu kursi pendek tetap dengan gaya tempo dulu, serta dilengkapi dengan satu mesin jahit zaman dulu di pojok kiri. Di tempat ini juga terdapat banyak foto dan lukisan bernuansa tempo dulu di setiap sudut dinding, bahkan di dinding wastafel atau tempat cuci tangan.

Makanan prasmanan dipajang di meja panjang di ruang tengah, namun ruangan itu dihiasi dengan lampu gantung klasik bergaya Jawa-Betawi, sangkar burung yang diberi lampu, serta payung khas Tiongkok berbagai warna yang juga digantung di atas. Musik yang diputar pun merupakan lagu-lagu klasik dari Indonesia dan Tiongkok.

Yang semakin membuat betah kawula muda di tempat itu adalah tempatnya yang bersih dan nyaman untuk makan, apalagi diiringi dengan musik klasik.

Menurut Erda Martanda, asisten pengelola Encim Gendut, konsep klasik yang disajikan karena sang pemilik Willy Wilson menyukai hal-hal yang berbau “jadul” dan klasik.

“Untuk konsep dan tema tempat makannya ditetapkan oleh pemilik karena menyukai hal-hal klasik dan tempo dulu, gitu. Bahkan bangunan ini adalah rumah tua, yang kemudian dibeli dan direnovasi sebagai tempat makan, karena memang sengaja yang dicari tempat klasik,” katanya.

Begitu juga untuk pemilihan makanan yang mengusung makanan rumahan dengan model prasmanan, dipilih karana ingin mempertahankan makanan khas Indonesia agar tidak hilang rasa budayanya juga.

Selama hampir tiga tahun berdiri, tempat makan ini tetap konsisten mempertahankan gaya makananan rumahan dan konsep klasiknya. Selain makanan rumahan, di tempat ini juga dijual jajanan dan kue tradisional. Selama itu pula tidak ada perubahan yang berarti dalam bangunan ini, hanya beberapa kali merubah dekorasi atau tatanan ruangan saja.

“Kalau untuk perubahan, dari awal enggak ada renovasi yang besar-besaran, cuma beberapa kali diubah dekorasi atau tatanan aja,” katanya.

Selain itu, Erda menambahkan bahwa sang pemilik yang merupakan mantan jurnalis itu berperan dalam setiap perubahan tatanan ruangan, meski kadang menggunakan jasa konsultan interior.

Barang-barang bernuansa “jadul” yang menjadi menjadi salah satu daya tarik pengunjung datang, selain faktor makanannya. Awalnya yang disasar adalah ibu-ibu yang baru mengantar anak-anaknya ke sekolah, namun makin ramai pengunjunjung, terutama pada Minggu saat diadakan acara khusus “All You Can Eat”.

Menurut Erda pula, setelah datang, ternyata banyak dari pelanggan yang awalnya hanya coba-coba, kemudian ketagihan, lalu membeli tambahan makanan untuk dibungkus dan dibawa pulang.

Pelanggan-pelanggan seperti itu pulalah yang kemudian balik lagi ke tempat makan ini. Menu yang paling laris adalah lidah sapi dan paru sapi, namun yang paling dicari adalah semur jengkol.

Harga yang ditawarkan di tempat makan ini juga cukup terjangkau, nasi dan sayur Rp8.500/porsi, nasi dan tiga sayur Rp13.500/porsi, sedang jajanan tradisionalnya mulai Rp2.500-Rp12.000/item. Harga yang cocok dan pas untuk semua kalangan, apalagi ditambah dengan suasana tempat yang ciamik.

Dukung pariwisata

Para milenial pun dapat berkuliner khas Indonesia sambil menambah feed instagram di tempat yang apik, sekaligus memajukan usaha kuliner dan industri pariwisata Lampung.

Salah satu pengunjung pun mengatakan bahwa suasana yang disuguhkan membuat nyaman, “Baru pertama kali kesini sih, tempatnya nyaman, bersih, interior barang-barang jadulnya juga bagus, khas zaman dulu lah,” ujar Rika.

Selain Encim Gendut, terdapat De Roesse Resto & Cafe, tempat nongkrong yang sering didatangi oleh anak-anak muda ini bertempat di Jalan Hos Cokroaminoto No. 78, Enggal, Bandarlampung. Mengusung tema klasik, tempat ini sangat “cozy” (nyaman) bagi para pengunjung untuk berlama-lama nongkrong.

Seperti halnya Encim Gendut, De Rosse juga mengusung tema jadul dengan dekorasi barang-barang antik yang terdapat di setiap sudut ruangan, membuat rumah makan ini semakin menarik perhatian, baik anak muda maupun orang dewasa.

Menurut Febby, Manager De Rosse Resto & Cafe, konsep tersebut merupakan ide dari pemilik yang memang menyukai hal-hal “vintage” atau model tahun, serta merupakan kolektor barang antik,

“Konsep dan ide itu dari pemilik, karena memang penyuka hal-hal vintage dan kolektor barang-barang antik. Istilahnya mungkin dari hobi dia jadi seperti inilah,” katanya.

Berawal dari konsep klasik dan jadul tersebut, target awal konsumen kafe yang berdiri sejak 2 Februari 2011 sebenarnya lebih kekeluarga. Namun, karena memang konsep yang nyaman ini ternyata disukai para kawula muda, baik untuk nongkrong maupun berswafoto, pengunjung kafe ini pun semakin ramai dan bervariasi.

“Target konsumen awal sebenarnya lebih kepada keluarga, sekarang anak muda juga banyak yang nongkrong, karena tempatnya nyaman dan konsep barang-barang antik yang bisa dibuat foto-foto juga,” ujar Febby.

Tidak bisa dipungkiri, dekorasi yang menarik juga jadi salah satu alasan pengunjung datang, sering foto juga. Apalagi setiap tahun interiornya diganti, barang-barangnya juga diganti. “Tahun ini lebih menonjolkan ke lukisannya. Itu salah satu siasat biar pelanggan gak bosen,” katanya.

Menurut sejumlah pengunjung, yang datang ke sana, salah satu kelebihan kafe itu adalah tempatnya yang nyaman buat nongkrong bersama teman dan keluarga.

“Enak, kok, tempatnya, cozy gitu. Yang bikin lebih enaknya lagi karena menu makannya bisa untuk sekedar nongkrong dan juga ada makanan berat kalo bawa keluarga, harganya juga standar,” kata Manda (20) salah satu pengunjung kafe.

“Lucu, sih, tempatnya, nyaman, `instagramable` banget lah. Yang pasti enggak diusir kalo buat nongkrong lama,” kata pengunjung lainnya, Nida (20).

Harga yang ditawarkan di kedua tempat makan tersebut juga cukup terjangkau, cocok dan pas untuk semua kalangan, apalagi ditambah dengan suasana tempat yang ‘ciamik’ atau keren. Para milenial pun dapat berkuliner khas Indonesia dan lainnya sambil menambah “feed” instagram di tempat yang apik tanpa harus mengeluarkan uang berlebih.

Peran generasi milenial yang menjadikan berbagai tempat sebagai “feed” instagramnya, secara tak langsung ikut mendorong kemajuan industri pariwisata di Provinsi Lampung.

Terkait hal itu, adalah tepat gagasan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo yang akan memulihkan dan mengembangkan pariwisata Lampung melalui generasi milenial dengan cara promosi destinasi wisata di media sosial.

“Promosi wisata milenial paling banyak di media sosial, maka kami akan bekerja sama dengan para travel blogger, Genpi (Generasi Pesona Indonesia) dan pemangku kepentingan lainnya lewat tagar #Lampungitukerreen dan lain-lain,” kata kata Ridho.*

Baca juga: JPO jadi lokasi “instagrammable”

Baca juga: Abadikan momen terbaik di tempat wisata Instagramable Surabaya ini

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019