Uncategorized

Presiden Prancis prihatin kondisi Ghosn di penjara Jepang

Presiden Prancis prihatin kondisi Ghosn di penjara Jepang
Presiden Prancis Emmanuel Macron berbicara kepada para pekerja di sebelah Carlos Ghosn, CEO pabrikan mobil asal Prancis, Renault, saat ia berkunjung ke pabrik Renault Maubeuge Construction Automobile di Maubeuge, Prancis, Kamis (8/11). (ANTARA FOTO/REUTERS/Philippe Wojazer)
Kairo (ANTARA News) – Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada Minggu (27/1) menyatakan keprihatinannya kepada Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, terkait kondisi penjara yang menjadi tempat ditahannya mantan bos aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi Carlos Ghosn.

Durasi penahanan yang berlangsung lama, sejak November 2018 hingga persidangan beberapa bulan ke depan, membuat Macron bersimpati atas kondisi Ghosn di Jepang.

“Saya telah mempertimbangkan bahwa penahanan itu sangat lama dan kondisi penahanannya keras, saya telah mengatakannya kepada Perdana Menteri Abe dalam beberapa kesempatan,” kata Macron kepada wartawan saat berkunjung ke Mesir, dilansir Reuters, Senin.

Kendati demikian, Macron mengatakan bahwa kondisi yang dialami Ghosn tidak mengancam keseimbangan aliansi antara Renault dan Nissan.

Baca juga: Ghosn terima 9 juta dolar AS dari perusahaan patungan

Taipan berdarah Prancis, Lebanon dan Brasil berusia 64 tahun itu, ditangkap pada November dengan tuduhan tidak melaporkan pendapatannya selama delapan tahun sebagai kepala aliansi Renault-Nissan.

Ghosn telah membantah segala tuduhan atas pelanggaran keuangan di Jepang. Adapun proses persidangannya kemungkinan akan digelar dalam beberapa bulan ke depan.

Pria yang mengawali karirnya di Michelin itu akan mengajukan pengunduran diri di Renault pada pekan ini, setelah dipecat sebagai pimpinan di Nissan dan Mitsubishi.

Baca juga: Mahalnya pesangon Ghosn jadi tantangan pertama pemimpin baru Renault

Baca juga: Renault sedang bicarakan pengganti Ghosn

Baca juga: Pengadilan Tokyo tolak permohonan bebas Carlos Ghosn

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2019