Uncategorized

Petani apel Gubugklakah Malang dilatih peremajaan bibit

Kota Batu, Malang, Jawa Timur, (ANTARA News) – Petani apel di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur telah dilatih untuk peremajaan bibit apel dan pengolahan lahan untuk meningkatkan produktivitas tanaman apel dan memenuhi kebutuhan benih apel. 

“Petani baru mengetahui bahwa lebih praktis membuat bibit batang bawah dari stek muda untuk mendapatkan bibit dalam jumlah banyak,” kata Kepala Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Malang Mursyidah di Kantor Desa Gubugklakah, Malang, Jawa Timur, Jumat.

Petani juga telah mengetahui bahwa batang bawah yang optimal sepanjang lima cm.

Pendampingan terhadap petani dilakukan melalui kegiatan demplot berupa hibah 600 pohon apel dan pupuk, serta berkerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) melalui bantuan 15.000 pohon apel kualitas unggul. 

Bibit unggul tersebut akan menghasilkan tanaman apel yang tahan terhadap hama dan penyakit, kualitas buah yang bagus dengan diameter buah lebih besar, rasa lebih manis dan warna yang lebih bagus. 

Pelatihan yang dilakukan Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Malang itu telah menyasar 40 orang petani yang mana mereka diharapkan untuk dapat menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada petani lain.

Selain penanaman bibit unggul untuk menggantikan tanaman apel yang berkualitas buruk, upaya lain untuk peningkatan produktivitas tanaman apel adalah dengan pengolahan lahan. 

Dari pelatihan pengolahan lahan tersebut, petani mengetahui pemupukan yang optimal bagi tanaman apel, yaitu 10-20 kg pupuk organik serta NPK tiga kg per pohon, yang diaplikasikan satu bulan sebelum panen.

Petani juga diberikan pemahaman bahwa tanaman kacang-kacangan sangat bermanfaat untuk menambah unsur nitrogen pada tanah yang menunjang pertumbuhan tanaman.*

Baca juga: Kemristekdikti dorong penguatan sistem inovasi daerah

Baca juga: Kemristekdikti dorong produktivitas budidaya apel Desa Gubugklakah

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019