Uncategorized

Menhub persilakan KPPU periksa dugaan kartel tiket pesawat

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mempersilakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk memerikaa dugaan kartel soal kenaikan tiket pesawat yang serentak. 

“Saya pikir silakan KPPU masuk, KPPU berwenang untuk itu. Jadi, silakan lihat,” kata Menhub Budi usai memberikan sambutan kegiatan Training of Trainer “Saya Perempuan Anti Korupsi” di Jakarta, Senin. 

Namun, Ia meyakini tidak ada dugaan kartel  terkait kenaikan tiket pesawat. “Kalau menurut saya tidak,” katanya. 

Pernyataan tersebut menyusul polemik dugaan praktik kartel antara sesama perusahaan penerbangan. Bukan hanya kenaikan, tetapi juga penurunan tiket dilakukan secara bersamaan. 

Ditambah, industri penerbangan di Indonesia dikuasai oleh dua pemain besar, yakni Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia, Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air) dan Lion Air Group (Lion Air, Batik Air dan Wings Air). 

Komisioner Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Afif Hasbullah sebelumnya  mengatakan masih mendalami dugaan tersebut. 

“Ini masih indikasi. Kalau nanti menjadi fakta dan data, bisa saja, tidak menutup kemungkinan dilakukan proses lidik,” katanya. 

Praktik kartel dilarang sesuai dengan Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti sebelumnya juga mengatakan bahwa pemerintah meminta Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Inaca) untuk menurunkan tiket pesawat guna meredam kegaduhan di masyarakat dan menciptakan iklim yang sehat. 

Meskipun, lanjut dia, maskapai menghadapi situasi yang berat karena harga avtur yang melonjak dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. 

“Ini ada karena mempertimbangkan keluhan masyarakat,” katanya. 

 Baca juga: Polemik tiket penerbangan, dugaan kartel hingga penyelamatan maskapai
Baca juga: Yang terpuruk setelah tiket pesawat naik

Pewarta: Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019