Uncategorized

Kementerian PUPR terus bangun infrastruktur dengan “multiplier effect” tinggi

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan terus membangun sarana infrastruktur dengan efek berganda atau “multiplier effect” tinggi.

“Dalam membangun infrastruktur, Kementerian PUPR sudah memperhitungkan efek berganda (multiplier effect) yang diharapkan sejak dari tahapan perencanaan, pelaksanaan hingga pemanfaatannya,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Jakarta dalam keterangan tertulisnya, Rabu.

Pembangunan infrastruktur sebagai program prioritas Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla dalam empat tahun ini telah berdampak pada pertumbuhan kawasan seperti metropolitan perkotaan, perbatasan, ekonomi khusus dan pariwisata.

Menurut Menteri Basuki, ketersediaan infrastruktur juga akan mendukung revitalisasi industri manufaktur Indonesia agar bisa berdaya saing sehingga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

Capaian pembangunan infrastruktur yang dikerjakan Kementerian PUPR selama empat tahun (2015 – 2018) dan rencana tahun 2019. Untuk mendukung ketahanan air dan pangan, pada 2015 – 2018, Pemerintah telah membangun 56 bendungan, dimana 13 bendungan selesai dan 43  bendungan lainnya dalam penyelesaian konstruksi.

Tahun 2019 akan dibangun sembilan bendungan baru sehingga total bendungan yang dibangun dari 2015 – 2019 adalah 65 bendungan. Jumlah tersebut akan menambah tampungan air di Indonesia dimana pada tahun 2014, Indonesia memiliki 231 bendungan. Selain bendungan, juga dibangun 949 buah embung alami. Tahun 2019 akan ditambah 104 embung, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sehingga total 1.053 embung.

Dalam pembangunan konektivitas, Kementerian PUPR terus meningkatkan kondisi jaringan jalan nasional tol dan non tol.

Pemerintah mendorong pembangunan jalan tol pada ruas jalan yang layak secara ekonomi dan finansial oleh pihak swasta atau melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Dengan demikian anggaran APBN dapat digunakan untuk pembangunan jalan di perbatasan, pulau terdepan dan terpencil.

Hingga tahun 2014, panjang jalan tol di Indonesia 780 km. Dalam empat tahun (2015-2018), panjang jalan tol di Indonesia yang dioperasikan bertambah 782 km dan ditargetkan ada tambahan 895 Km jalan tol dioperasikan di tahun 2019, sehingga dalam lima tahun dioperasikan 1.677 km.

Sedangkan dari tahun 2015 – 2018, pemerintah telah membangun 3.432 km jalan nasional, termasuk di dalamnya jalan perbatasan. Pada tahun 2019 akan dibangun tambahan 409 km jalan baru, sehingga total jalan terbangun hingga 2019 akan menjadi 3.841 Km.

“Jalan perbatasan juga dibangun di Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Jalan Trans Papua sebelumnya sudah dibangun hingga tahun 2014 sepanjang 2.590 km. Pada 4 tahun terakhir, kita berhasil menyambungkan semua 945 km, sehingga pada tahun 2019 dilanjutkan dengan peningkatan kualitas jalannya. Seperti ruas Wamena – Nduga yang ada insiden kemaren semua sudah tembus kecuali jembatannya,” ujar Menteri PUPR.

Pembangunan jembatan sedang dilaksanakan dengan target akhir tahun 2018 sudah tersambung. Bulan Januari 2019, pihaknya memulai lagi pembangunan jembatan tersebut.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019